TOKO BUNGA DI PONTIANAK - ADITYA FLORIST - PROFIL




Kami adalah toko bunga online di Kota Pontianak yang sudah berpengalaman selama bertahun-tahun dalam melayani pemesanan bunga papan ucapan dll di Kota Pontianak dan sekitarnya.
Nama Usaha : Toko Bunga Aditya Florist
Alamat          : Jalan Sei Raya Dalam, Ruko Villa Gading Raya II, Pontianak
Layanan        : Bunga papan, Krans duka, dll
No.Telp/ WA : 082339166410 / 087762026677 


TOKO BUNGA DI PONTIANAK - ADITYA FLORIST Melayani pemesanan:

1. BUNGA PAPAN UCAPAN SELAMAT & WEDDING bisa klik disini

2. BUNGA PAPAN UCAPAN DUKACITA & KRANS DUKA CITA bisa klik disini

HARGA BUNGA PAPAN MULAI Rp. 450.000,-

(HARGA SUDAH TERMASUK ONGKIR DALAM KOTA PONTIANAK)


Area pengiriman kami meliputi Dalam Kota Pontianak dan Luar Kota Pontianak meliputi:
No.Kabupaten/kotaIbu kota
1Kabupaten BengkayangBengkayang
2Kabupaten Kapuas HuluPutussibau
3Kabupaten Kayong UtaraSukadana
4Kabupaten KetapangTumbang Titi
5Kabupaten Kubu RayaSungai Raya
6Kabupaten LandakNgabang
7Kabupaten MelawiNanga Pinoh
8Kabupaten MempawahSungai Kunyit
9Kabupaten SambasPemangkat
10Kabupaten SanggauSanggau
11Kabupaten SekadauSekadau
12Kabupaten SintangSintang
15Kota PontianakPontianak
18Kota SingkawangSingkawang

CARA PEMESANAN BISA KLIK DISINI
=====================================================================

Kota Pontianak adalah Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, salah satu Provinsi di Indonesia. Kota Pontianak dikenal juga dengan sebutan “Khun Tien” nama yang diberikan oleh Etnis Tionghoa Pontianak.

Pontianak yang terkenal dengan Kota Khatulistiwa karena dilalui oleh garis lintang 00, Di bagian utara Kota Pontianak Tepatnya di Siantan berdiri Tugu Khatulistiwa sebagai tonggak garis ekuator yang di bangun pada tahun 1928 oleh seorang seorang ahli geografi yang berasal dari Belanda. Setiap 2 tahun sekali tepatnya tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September matahari siang akan berada tepat diatas kepala anda, sehingga membuat tugu dan benda disekitarnya tidak memiliki bayangan.
Selain terkenal akan Tugu Khatulistiwa-nya, Pontianak juga dilalui oleh sungai terpanjang di Indonesia yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kemudian di abadikan oleh pemerintah daerah setempat sebagi lambang kota Pontianak.

Sejarah Kota Pontianak
kota pontianak kalimantan baratNama Pontianak erat kaitannya dengan sejarah berdirinya kota ini. Menurut cerita rakyat nama Pontianak diambil dari nama Kuntilanak, yaitu sebuatan untuk hantu gentayangan yang mati karena melahirkan.
Terdapat dua versi sejarah kota Pontianak diantaranya adalah cerita yang banyak dipercaya oleh penduduk Pontianak dan sejarah Pontianak menurut VJ. Verth seorang berkebangsaan belanda yang tertuang dalam bukunya “Borneos Wester Afdeling”.
Pontianak berdiri pada 23 Oktober 1771 atau 14 Rajab 1185 Hijriah Syarif Abdurrahman Alqadrie. Menurut cerita rakyat yang beredar, pada saat itu Syarif Abdurrahman Alqadrie yang berpetualang untuk mencari tempat membuka pemukiman baru sering di ganggu oleh Kuntilanak, untuk mengusir hantu itu Syarif Abdurrahman Alqadrie pun melepaskan tembakan meriam sekaligus menjadikan tempat jatuhnya peluru meriam sebagai tempat pemukiman yang akan didirikan, Tepatnya di persimpangan antara Sungai Kapuas Besar dan Sungai landak serta Sungai Kapuas Kecil.
Sedangkan sejarah berdirinya kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, VJ. Verth dalam bukunya yang berjudul “Borneos Wester Afdeling” menceritakan bahwa Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman Alqadrie adalah seorang putra ulama yaitu Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie dikenal juga dengan Al Habib Husin. Syarif Abdurrahman Alqadrie mulai merantau meninggalkan Kerajaan Mempawah. Sebuah kerjaan di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik menjadi Pangeran.
Setelah perniagaannnya berhasil dan modal yang terkumpul cukup untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya. Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman Alqadrie kemudian melakukan perlawanan terhadap Belanda, dimulai dari keberhasilannya membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir.
Setelah Syarif Abdurrahman Alqadrie menjadi seorang kaya, ia kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Setelah melakukan petualangan panjang menyusiri sungai Kapuas ia menemukan percabangan Sungai Kapuas, Sungai Landak dan Sungai Kapuas Kecil kemudian menetapkannya sebagai pemukiman baru dan pusat perdagangan yang diberi nama Pontianak.
Tahun 1192 Hijriah, Syarif Abdurrahman Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak Pertama. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Mesjid Raya Sultan Abdurrahman Alkadrie dan Istana Kadariah, yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur.
Berikut Sultan-sultan yang pernah memegang tampuk Kesultanan Pontianak:
Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintah dari tahun 1771-1808
Syarif Kasim Alkadrie memerintah dari tahun 1808-1819.
Syarif Osman Alkadrie memerintah dari tahun 1819-1855.
Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tahun 1855-1872.
Syarif Yusuf Alkadrie memerintah dari tahun 1872-1895.
Syarif Muhammad Alkadrie memerintah dari tahun 1895-1944.
Syarif Thaha Alkadrie memerintah dari tahun 1944-1945.
Syarif Hamid Alkadrie memerintah dari tabun 1945-1950.
Geografi
Kota Pontianak merupakan Ibukota Propinsi Kalimantan Barat yang terdiri dari 6 (enam) kecamatan
Kecamatan Pontianak Barat
Kecamatan Pontianak Kota
Kecamatan Pontianak Selatan
Kecamatan Pontianak Tenggara
Kecamatan Pontianak Timur
Kecamatan Pontianak Utara
Dan terbagi menjadi 30 (tiga puluh) Desa/kelurahan.
Kelurahan/Desa Sei/Sungai Jawi Luar
Kelurahan/Desa Pal Lima
Kelurahan/Desa Sei/Sungai Jawi Dalam
Kelurahan/Desa Sei/Sungai Beliung
Kelurahan/Desa Tengah
Kelurahan/Desa Mariana
Kelurahan/Desa Sei/Sungai Jawi
Kelurahan/Desa Sei/Sungai Bangkong
Kelurahan/Desa Darat Sekip
Kelurahan/Desa Akcaya
Kelurahan/Desa Kota Baru
Kelurahan/Desa Parit Tokaya
Kelurahan/Desa Benua Melayu Darat
Kelurahan/Desa Benua Melayu Laut
Kelurahan/Desa Bangka Belitung
Kelurahan/Desa Bangka Belitung Darat
Kelurahan/Desa Bangka Belitung Laut
Kelurahan/Desa Bansir Darat
Kelurahan/Desa Bansir Laut
Kelurahan/Desa Saigon
Kelurahan/Desa Tanjung Hulu
Kelurahan/Desa Parit Mayor
Kelurahan/Desa Banjar Serasan
Kelurahan/Desa Tambelan Sampit
Kelurahan/Desa Dalam Bugis
Kelurahan/Desa Tanjung Hilir
Kelurahan/Desa Siantan Hulu
Kelurahan/Desa Siantan Tengah
Kelurahan/Desa Siantan Hilir
Kelurahan/Desa Batu Layang
Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,10 meter sampai 1,50 meter diatas permukaan laut. Luas Kota Pontianak adalah luas 107,82 km². Kota Pontianak terbagi menajadi beberapa belahan diantaranya:
Belahan Utara dengan Kecamatan Pontianak Utara
Belahan Timur dengan Kecamatan Pontianak Timur
Belahan Selatan dengan Kecamatan Pontianak Selatan
Belahan Barat dengan Kecamatan Pontianak Barat
Belahan Tenggara dengan Kecamatan Pontianak Tenggara
Bagian Kota dengan Kecamatan Pontianak Kota
Kota Pontianak terletak pada garis lintang 0 derajat bertepatan dengan garis Khatulistiwa dan 109 derajat, 20 menit, 00 detik Bkota pontianak kalimantan barat ujur Timur


Setiap dua tahun sekali, terdapat fenomena unik dimana matahari tepat berada di atas kepala sehingga Tugu Khatulistiwa dan benda disekelilingnya tak memiliki bayangan, fenomena ini terjadi pada tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September. Selain Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak juga dilalui aliran sungai terpanjang di Indonesia yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak. (Baca juga: Sejarah Candi Kalasan)
Dahulu, pada tahun 1963 Kota Pontianak menggunakan zona waktu WITA, namun pada tahun 1988 bersama Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat berdasarkan keputusan presiden, dua wilayah ini menggunkan zona waktu WIB. Sehingga pada tahun 1988 Kota Pontianak merayakan dua kali tahun baru yakni pukul 00:00 WITA (23:00 WIB) dan 00:00 WIB.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada 23 Oktober 1771. Berawal dari perjalanan Syarif Abdurrahman Alkadrie membuka lahan hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Kapuas Besar untuk dijadikan tempat kekuasaan Beliau. Berdirinya Masjid Jami’ (kini Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang berada di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur mengukuhkan Syarif Abdurrahman Alkadrie sebagai Sultan Pontianak pada tahun 1778.
Sejarah Kota Pontianak Menurut V.J Verth
Menurut sejarahwan Belanda V.J Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dengan cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Ditulis dalam bukunya, Belanda memasuki Kota Pontianak tahun 1773 dari Batavia. Disebutkan bahwa Syarif Abdurrahman Alkadrie merupakan anak dari Al Habib Husin yang meninggalkan Kerajaan Mempawah untuk merantau. Dalam perjalanannya, Syarif Abdurrahman Alkadrie menetap di Banjarmasin dan menikah dengan adik Sultan Banjar Sunan Nata Alam dan berhasil dilantik menjadi seorang pangeran. Menjalankan tugasnya sebagai pangeran, Syarif Abdurrahman berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup uang untuk modal mempersenjatai kapal miliknya yang digunakan untuk melawan penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif berhasil membajak kapal Belanda, juga kapal Inggris dan Prancis. Dari hasil pembajakan kapal para penjajah inilah Syarif Abdurrahman berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah banyak yang akan digunakan Beliau untuk membangun pemukiman di percabangan Sungai Kapuas. Yang kini derah ini dinamakan Pontianak. (Baca juga: Sejarah Radio)
Kolonialisme Belanda Di Kota Pontianak
Pada tahun 1778, Belanda dari Batavia memasuki Pontianak yang dipimpin oleh Willem Ardinpola. Di Pontianak, Belanda disambut baik bahkan bertempat tinggal di seberang kesultanan (kini disebut Tanah Seribu atau Verkendepaal). Kemudian pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan yang berisi bahwa Belanda menginginkan daerah Tanah Seribu sebagai pusat kegiatan bangsa Belanda. Dimana di daerah ini Belanda membuat sistem pemerintahan (daerah kekuasaan yang dipimpin semacam bupati) yang memiliki badan pemerintahan untuk mengelola kekayaan pemerintah dan mengurus pajak. (Baca juga: Sejarah Olahraga di Indonesia)
Sultan Yang Memimpin Kesultanan Pontianak
1.     Syarif Abdurrahman Alkadrie (1771-1808)
2.     Syarif Kasim Alkadrie (1808-1819)
3.     Syarif Osman Alkadrie (1819-1855)
4.     Syarif Hamid Alkadrie (1855-1872)
5.     Syarif Yusuf Alkadrie (1872-1895)
6.     Syarif Muhammad Alkadrie (1895-1944)
7.     Syarif Thaha Alkadrie (1944-1945)
8.     Syarif Hamid Alkadrie (1945-1950)
Pada tahun 1946 Pontianak ditetapkan sebagai Stadsgemeente yang dipimpin oleh R.Soepadan dan berakhir di tahun 1948. pembentukkan stadsgemeente hanya bersifat sementara. Kemudian di tahun 1949 Kerajaan Pontianak membentuk pemerintahan kota dan walikota pertama ialah Rohanan Muthalib yang merupakan perempuan pertama yang menjadi walikota Pontianak.
Asal Usul Nama Pontianak
1. Versi pertama : Nama Hantu
Banyak cerita menganggap bahwa nama Pontianak berasal dari nama hantu permpuan kuntilanak. Diceritakan bahwa ketika Syarif Abdurrahman bersama rombongan untuk menyisir hutan agar dapat dijadikan tempat pemukiman para rombongan diganggu makhluk astral dari arah hutan. Berada di delta pertemuan Sungai Kapuas Kecil, Sungai Kapuas Besar dan Sungai Landak para rombongan diganggu oleh suara jeritan dan tangisan mengerikan yang datangnya dari arah tengah hutan yang diduga berasal dari makhluk astral, kuntilanak.
Banyak anggota rombongan yang merasa ketakutan ingin segera menyelesaikan pekerjaan kemudian pulang. Karena gangguan yang dialami oleh para rombongan, Syarif Abdurrahman merasa bahwa suara-suara itu sangat mengganggu rombongannya dan menghambat pekerjaan. Dengan inisiatifnya, Syarif Abdurrahman membawa meriam ke hutan dan menembakkan meriam tersebut kearah sumber suara. Dan benar saja, suara-suara mengerikan tersebut berangsur-angsur menghilang sehingga pekerjaan dapat dilakukan dan para rombongan merasa tenang. (Baca juga: Sejarah Jembatan Ampera)
Namun, ada yang mengatakan bahwa suara mengerikan tersebut berasal dari kumpulan perompak yang bersembunyi di dalam hutan agar tidak diketahui oleh siapapun. Sebab daerah tersebut masih tertutup rimbunnya hutan sehingga akan terasa aman bagi mereka.
2. Versi Kedua : Ayunan Anak
Kota Pontianak merupakan suku Melayu, yang diceritakan bahwa Kota Pontianak berasal dari ayunan anak yang berada di sekitar Masjid Jami’ yang biasa digunakan oleh anak-anak yang keluarganya bekerja. (Baca juga: Sejarah Runtuhnya Bani Ummayah)
3. Versi Ketiga : Pohon Punti
Pohon punti atau Pohon Ponti berarti pohon-pohon yang tinggi. Pada jaman itu, Pulau Klimantan dikenal sebagai kepulauan yang memiliki pohon-pohon tinggi yang besar. Penyebutan pohon ponti ini terbukti dari isi surat antara Husein bin Abdul Rahman Al-Aidrus kepada Syarif Yusuf Al-Kadrie.
4. Versi keempat : Pontian
Beawal dari posisi Kota Pontianak yang strategis sebagai Pontian (Pemberhentian atau tempat singgah). Banyak pelaut ataupun pedagang yang menjadikan lokasi ini sebagai tempat singgah sementara. Di Malaysia juga terdapat tempat bernama Pontian yang digunakan untuk tempat singgah sementara atau tempat pemberhentian.
5. Versi Kelima : Kun Tian
Kun Tian merupakan pelafalan bahasa mandarin yang berarti “tempat pemberhentian”. Logat masyarakat tionghoa biasanya memberikan penambahan lafal di akhir kalimat atau kata namun tidak mengurangi atau menambah arti dari kalimat yang sebenarnya, seperti uang(nga), mobil(aa). Sehingga dalam pelafalan Kun Tian menjadi Kun Tian(na), dan sebagian besar orang tua tionghoa di Pontianak masih menggunakan Kun Tian untuk menyebut Pontianak. (Baca juga: Sejarah Burung Garuda)
6. Versi Keenam : Pintu Anak
Pintu Anak yang dimaksud ialah dua anak sungai yakni Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dimana, lokasi pertama pemukiman di Pontianak berada di delta Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.

Keunikan Kota Pontianak

Banyak penjelasan mengenai Sejarah Kota Pontianak, mulai dari mitos, cerita rakyat, hingga ilmiah. Namun, apapun ceritanya tetap saja Kota Pontianak menarik untuk dibahas. Banyak keunikan yang dimiliki oleh Kota Pontianak seperti berikut: (Baca juga: Sejarah Alat Musik Angklung)
1. Kota Khatulistiwa
Terletak pada garis lintang 0 derajad bertepatan dengan garis khatulistiwa membuat iklim di Kota Pontianak memiliki iklim tropis dengan curah hujan tinggi pada bulan Mei hingga September. Cuaca yang menguntungkan ini banyak memberikan manfaat bagi masyarakat maupun alam. Seperti curah hujan yang tinggi dapat membuat pepohonan dihutan semakin subur, sedangkan di mata masyarakat dapat membantu pertanian dan perkebunan mereka.
2. Penghasil Lidah Buaya Raksasa
Siapa yang tak tahu tanaman lidah buaya? sering kita lihat lidah buaya pada kemasan produk kecantikan seperti shampo atau lulur mandi. Namun tahukah kalian bahwa terdapat Lidah Buaya raksasa yang dihasilkan oleh Kota Pontianak. Seperti namanya, Lidah Buaya Raksasa memiliki ukuran yang sangat besar daripada umumnya. Lidah buaya raksasa ini biasanya digunakan untuk membuat jeli, puding, keripik dll oleh masyarakat sekitar guna menaikkan harga jual. Lidah buaya raksasa sendiri diperdagangkan ke luar pulau. (Baca juga: Sejarah Gitar)
3. Monumen Kulminasi Matahari
Kulminasi merupakan fenomena alam berkaitan dengan matahari. Dimana matahari berada di atas kepala kita dan membuat bayang bayang menghilang. Hal seperti ini hanya ada di Kota Pontianak yang dilalui garis Khatulistiwa.
4. Dilalui Sungai Kapuas
Sungai Kapuas adalah sungai terpanjang di Kalimantan bahkan di Indonesia. Sungai Kapus menjadi sangat penting bagi penduk sekitar, dimana masih banyak yang menggunakan sungai sebagai tempat melakukan kegiatan sehari-hari serta di bagian hulu sungai dipergunakan sebagai jalur perdagangan. (Baca juga: Sejarah Sepak Bola)
5. Festival Meriam Karbit
Melihat sejarah bahwa Syarif Abdurrahman mengusir gangguan makhluk astral menggunakan meriam ketika akan membuka lahan untuk pemukiman. Masyarakat Pontianak melakukan sebuah festival meriam yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadhan. Meriam yang digunakan sangat aman dan mudah dicari hanya menggunakan sebilah bambu, karbit dan api kalian sudah dapat membuat merian kalian sendiri.
6. Pontianak Kota Bersinar
Letak Pontianak yang dilalui garis matahari (khatulistiwa) membuat cuaca di siang hari sangat panas daripada kota lain di Indonesia. Bahkan di malam hari masih terdapat pantulan cahaya matahari hingga membuat langit berwarna kemerahan.
7. Masjid Mujahidin
Masjid Mujahidin merupakan sebuah bangunan masjid megah yang didedikasikan kepada pejuang muslim yang gugur untuk merebut kenerdekaan. (Baca juga: Sejarah Benua Amerika)
Iklim, Topografi dan Perekonomian Kota Pontianak
Struktur tanah Kota Pontianak berupa lapisan tanah gambut bekas endapan lumpur Sungai Kapuas. Dengan iklim berupa iklim tropis dengan suhu 28-32 derajat celcius. Besarnya curah hujan di Kota Pontianak berkisar 3.000 hingga 4.000 mm per-tahun.
Keadaan iklim yang menguntungkan ini merupakan anugerah bagi masyarakat setempat bagaimana tidak, dengan iklim seperti ini penduduk dapat bercocok tanam. Dengan penghasilan seperti Ubi, Lidah buaya, Pisang, Nanas dan Nangka. (Baca juga: Sejarah Benua Atlantis)
Di sektor perdagangan ditandai dengan banyaknya dan berkembangnya bangunan-bangunan tinggi seperti mall, hotel, dll. Kebanyakan perekonomian Kota Pontianak berasal dari sektor Industri, Pertanian dan Perdagangan. Sedangkan di sektor industri terdapat kurang lebih 34 perusahaan di Kota Pontianak. Produksi tertinggi berasal dari perusahaan penghasil karet. Sedangakan sentra industri kecil pendapatan terbesar dari sektor makanan ringan. (Baca juga: Sejarah Benua Antartika). Masih ada banyak yang perlu kalian ketahui tentang Kota Pontianak.


PLATSELIJK FONDS

Berada dibawah kekuasaan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (semacam Bupati KDH Tk. II Pontianak). Plaatselijk Fonds merupakan badan, yang mengelola dan mengurus Eigendom (milik) Pemerintah, dan mengurus dana /keuangan yang diperoleh dari : Pajak, Opstalperceelen, Daerah kerja Platselijk Fonds adalah daerah Verkendepaal (Tanah Seribu). Pimpinan Plaatselijk Fonds terdiri dari : Voorziter (Ketua) Beheerder Staadfonds (Pimpinan selain Voorzter), Sekretaris. Behercomisie dibantu beberapa Comisieleden (Pengawasan) Plaatselijk Fonds, setelah pendaratan Jepang, praktis terhenti, terkecuali soal kebersihan, dan bekerja kembali dengan pimpinan tentara Jepang, setelah masuk tenaga sipil Jepang dan adanya Kenkarikan (semacam Asisten Resident) Jepang, maka Platselijk Fonds dihidupkan kembali berganti nama SHINTJO yang dipimpin orang Indonesia yaitu Alin. Bp. MUHAMMAD ABDURRACHMAN sebagai SHINTJO dan untuk Pimpinan Pemerintah Sipil tetap ada Demang & Ass. Demang dengan nama Jepang adalah GUNTJO.

STADSGEMEENTE (LAMDSHAAP GEMEENTE)

Berdasarkan Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan/Goedgskeurd de Resident der WesteraMeeling Van Borneo (Dr. J VAN DER SWAAL) menetapkan sementara sebagai berikut:
Yang menjadi Syahkota pertama adalah R. SOEPARDAN, dan Syahkota melakukan serah terima harta benda dan keuangan Platselijk Fonds pada tanggal 1 Oktober 1946 dari Staats Fonds MUHAMMAD ABDURRACHMAN.
Masa jabatan Syahkota R. SOEPARDAN 1 Oktober 1946 dan berakhir awal tahun 1948, untuk selanjutnya berdasarkan penetapan Pemerintah Kerajaan Pontianak diangkat ADS. HIDAYAT, dengan jabatan BURGERMESTER Pontianak sampai tahun 1950.

KOTA BESAR PONTIANAK

Sebagai pengganti NY. ROHANA MUTHALIB, oleh Pemerintah diangkat SOEMARTOYO, sebagai Walikota Besar Pontianak, mengingat peralihan Kekuasaan Swapraja Pontianak kepada Bupati/Kabupaten Pontianak tidak termasuk, maka Pemerintah Daerah Kota Besar Pontianak berstatus Otonom.
PEMERINTAH DAERAH KOTA PRAJA PONTIANAK
Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan LANDSCHAP GEMEENTE, ditingkatkan menjadi KOTA PRAJA Pontianak. Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah ( Otonomi Daerah ).
PEMERINTAH DAERAH KOTA PRAJA PONTIANAK
Sesuai dengan perkembangan Tata Pemerintahan, maka dengan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan LANDSCHAP GEMEENTE, ditingkatkan menjadi KOTA PRAJA Pontianak. Pada masa ini Urusan Pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah ( Otonomi Daerah ).
ARTI GAMBAR DAN LAMBANG
Kota Pontianak didirikan dengan permohonan Ridho Tuhan Yang Maha Esa pada tanggal 23 Oktober 1771 dibawah Garis Khatulistiwa didaerah tiga cabang sungai, mempunyai hasil dasar Karet dan Kelapa dengan sifat – sifatnya yang terpuji, menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila sesuai dengan Falsafah Negara Republik Indonesia.Lambang Kota Pontianak digambarkan sebagai berikut:
·         Bentuk Lambang berupa bulatan Kubah
·         Pada sisi sebelah kanan 23 lembar daun Karet dan di sisi kiri 10 lembar daun Kelapa
·         Diantara daun-daun tersebut menyinar dari bawah keatas 5 sinar dan pangkal sinar ditulis angka 1771
·         Ditengah-tengah melintang garis Khatulistiwa diatas sungai bercabang tiga
·         Tulisan KOTA PONTIANAK membentang dari pangkal daun Karet sampai kepangkal daun Kelapa
Bentuk dari keseluruhan Lambang Daerah ialah bulatan Kubah bertumpu pada pita bertulisan KOTA PONTIANAK, yang berarti KOTA PONTIANAK didirikan dengan ditandai berdirinya sebuah Masjid sebagai lambang Keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Keberadaan suatu kota tidak lepas dari kisah legendanya. Wisatawan yang liburan ke Pontianak, Kalimantan Barat bisa mendengar kisah asal-usul Pontianak dari kata Kuntilanak. Lalu, apa hubungannya dengan meriam Lebaran?

Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Istana Kadriah, bisa mengetahui kisah asal-muasal Pontianak. 243 Tahun yang lalu, Syarif Abdurrahman Alkadrie menyisir Sungai Kapuas untuk mencari lokasi pembangunan istana.

Syarif Abdurrahman Alkadrie ini sendiri adalah anak seorang hakim agama dari Kerajaan Matan yang kemudian menjadi Raja Pontianak. Ia juga yang nantinya membangun Istana Kadriah, bangunan pertama yang jadi tanda berdirinya Kota Pontianak.
Syarif Abdurrahman merupakan orang yang telah memiliki pengalaman dalam berkeliling tempat dan membuka lahan. Di Pontianak, ia kerap diganggu oleh hantu Kuntilanak yang memang jadi penghuni di hutan sepanjang Sungai Kapuas.
Sang Raja menembakkan meriam ke tiga tempat yang kemudian jadi 3 titik pembangunan Pontianak. Ternyata, tembakan meriam yang suaranya sangat kencang itu berhasil menakuti para kuntilanak sehingga mereka pergi dari hutan Pontianak.
"Betul itu, kuntilanak takut dengan Sultan Syarif Abdurrahman dan semua keturunannya. Sultan menembakkan meriam, mereka takut lalu pergi," tutur Iskandar, warga Pontianak yang mengaku keturunan Syarif Abdurrahman kepada detikTravel beberapa waktu lalu.
Ketiga titik tersebut adalah Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Abdurrahman dan pemakaman anggotak keluarga Kesultanan Pontianak. Sedangkan mengapa kota ini kemudian bernama Pontianak karena dahulu banyak hantu kuntilanak yang mendiami tempat ini.
Sedangkan warga lokal sering menyebutnya dengan nama puntianak. Dari sanalah kota ini dinamakan Pontianak.
Semua kisah ini bisa Anda baca saat mengunjungi Istana Kadriah yang terletak di tengah kota. Tak hanya itu, foto-foto sejarah kota dan istana ini juga bisa ditemui di sini.
Meriam juga jadi salah satu ciri khas dari kota ini. Namanya meriam karbit. Dibuatnya dari mesiu dan air yang kemudian dipicu percikan api. Festival Meriam Karbit biasanya digelar untuk meramaikan malam Idul Fitri. Bunyi meriam dipercaya bisa menakuti para kuntilanak sehingga mereka tak berani mendekat dan mengganggu kita semua. Terima kasih